SALAK, PAKPAK BHARAT — Sore itu, sekitar pukul 17.35 WIB, angin pegunungan berembus lembut menyapa Lapangan Napasengkut di Kota Salak, Kabupaten Pakpak Bharat. Perbukitan hijau kawasan Sindeka-Salak membingkai senja yang perlahan turun, menciptakan suasana sejuk di tengah keramaian warga yang berdatangan dari berbagai kampung dan dusun.
Di tengah riuh rendah masyarakat, sepasang suami istri duduk tenang di bawah payung berwarna mocca. Tidak ada pesta mewah, tidak pula perayaan khusus. Hanya kebersamaan sederhana: menikmati hidangan yang dijajakan warga, menyaksikan keramaian, dan merasakan denyut nadi kehidupan daerah yang mereka cintai.
Namun, Kamis, 28 Juli 2026 itu bukanlah hari biasa.
Pada tanggal bersejarah tersebut, Kabupaten Pakpak Bharat genap berusia 23 tahun. Di saat yang sama, sang istri, Julyanty Tinendung, juga merayakan ulang tahunnya yang ke-51. Dua perayaan berpadu dalam satu waktu, di tanah kelahiran yang terus tumbuh.
“Sederhana, namun menyentuh hati. Seperti rasa es mocca yang lembut, meninggalkan kesan mendalam tanpa perlu kemegahan,” begitu suasana sore itu terasa.
Wajah Baru Perayaan
Sekeliling mereka, kehidupan berjalan luwes dan hangat. Warga berjalan santai, duduk bercengkerama bersama keluarga, menikmati ruang terbuka, hingga mencicipi kuliner dan produk lokal yang ditawarkan. Keramaian ini bukan sekadar kemeriahan acara hari jadi. Di baliknya, roda ekonomi rakyat berputar nyata.
Pedagang rumahan membawa dagangan mereka. Pelaku UMKM berharap hasil karyanya dikenal warga. Keluarga mendapatkan tambahan penghasilan. Masyarakat dapat menikmati kebanggaan menggunakan produk daerah sendiri.
Pemandangan di Lapangan Napasengkut menyimpan pesan strategis: ruang publik dan momen perayaan dapat bertransformasi menjadi penggerak ekonomi jika dikelola secara kreatif dan berkelanjutan. Ke depannya, lapangan ini dan ruang terbuka serupa dapat berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif—wadah bagi kuliner khas, kerajinan tangan, seni budaya, hingga hasil pertanian lokal untuk tumbuh dan dikenal lebih luas.
Tonggak Usia 23: Lebih dari Sekadar Angka
Momentum hari jadi ke-23 ini menjadi waktu yang tepat bagi seluruh elemen masyarakat untuk merenungi perjalanan panjang pembangunan daerah. Usia dua dekade lebih tiga tahun bukan sekadar angka hitungan, melainkan cerminan dari jejak keberhasilan, tantangan yang terlewati, serta harapan besar yang masih harus diwujudkan.
Pembangunan masa depan tidak hanya dituntut merampungkan kebutuhan fisik dan infrastruktur, namun juga harus semakin mengakar pada sektor yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan warga. UMKM perlu didorong naik kelas. Ekonomi kreatif butuh ruang inovasi yang memadai. Petani harus mendapatkan dukungan agar hasil buminya memiliki nilai tambah tinggi. Produk lokal dibuka aksesnya menuju pasar yang lebih luas. Generasi muda perlu dibekali kesempatan seluas-luasnya untuk berkarya.
Kekayaan alam dan keunikan budaya Pakpak Bharat pun tak kalah penting untuk terus dijaga sekaligus dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata yang menopang ekonomi daerah.
Semua cita-cita ini mengandalkan satu kata kunci: kolaborasi. Pemerintah daerah, masyarakat luas, dunia usaha, pelaku ekonomi kreatif, petani, hingga generasi muda harus berjalan beriringan. Sebab, kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan, melainkan oleh seberapa kokoh masyarakatnya tumbuh, dan seberapa besar peluang yang tersedia bagi setiap warga untuk hidup sejahtera.
Sementara itu, di bawah payung mocca yang teduh, pasangan tersebut menyadari pula bahwa usia 51 tahun adalah fase pematangan. Sama seperti Kabupaten Pakpak Bharat yang beranjak dewasa, setiap perjalanan hidup mengajarkan untuk tetap rendah hati, bekerja tulus, dan terus memupuk harapan demi masa depan yang lebih cerah.
Senja di Napasengkut perlahan berganti gelap, namun harapan di hati warga Pakpak Bharat tetap menyala terang.// Raja.Solin






























