LSM LIRA Mendesak APH Sikat Praktik Pungli di Lingkungan Dinas Pertanian Gayo Lues

- Redaksi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 07:41 WIB

5062 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES — Praktek dugaan pungutan liar (pungli) dalam distribusi dana bantuan pertanian di Kabupaten Gayo Lues mencuat ke permukaan, memicu kemarahan warga sekaligus sorotan tajam elemen sipil. Investigasi lapangan menunjukkan, sedikitnya 32 kelompok tani penerima bantuan dari dua program irigasi, yakni perpompaan dan perpipaan, diduga dipalak secara sistematis oleh oknum di Dinas Pertanian setempat. Tak tanggung-tanggung, potongan liar tersebut disebut-sebut mencapai 25 hingga 30 persen dari total dana yang digelontorkan pemerintah.

Aktivis Lumbung Informasi Rakyat (LIRA), M Purba, SH, dengan tegas meminta aparat penegak hukum (APH) segera turun ke lapangan untuk menindak dan mengusut praktik kotor yang disebut-sebut telah berlangsung lama tanpa sanksi tegas. “Negara hadir untuk mensejahterakan petani, bukan membiarkan dana bantuan menjadi bancakan kerabat birokrat,” tegas Purba.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari sumber yang kredibel, modus pemotongan ini berlangsung rapi. Setiap kelompok tani yang sudah menerima pencairan dana ke rekening, terpaksa menyerahkan bagian ‘wajib setor’ melalui ketua kelompok kepada oknum tertentu di dinas, dengan presentase yang telah dikunci sebelum program dimulai. Nilai pemotongan itu, jika benar-benar merata, berujung pada dugaan kerugian ratusan juta rupiah yang seharusnya digunakan secara maksimal untuk peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam program irigasi perpompaan tercatat sedikitnya 18 kelompok tani, masing-masing menerima nominal sekitar Rp153 juta dengan total anggaran mencapai Rp2,754 miliar. Jika dugaan pungli 25-30 persen benar terjadi, maka nilai uang yang “dikorbankan” dapat mencapai setidaknya Rp688 juta atau lebih. Modus yang sama juga terjadi pada 14 kelompok tani penerima program irigasi perpipaan senilai Rp93 juta per kelompok.

Parahnya, investigasi LIRA di lapangan menemukan banyak proyek irigasi yang berjalan tanpa plank nama atau informasi transparan sumber anggaran. Hal ini menimbulkan kecurigaan kuat ada niat menutupi aliran dana dan memanipulasi pengawasan publik. Beberapa lokasi bahkan tak jelas apakah pembangunannya bersumber dari APBN, dana desa, atau kontribusi pribadi. Lambannya pelaporan realisasi ke pusat serta ketiadaan transparansi pelaksanaan semakin mempertebal dugaan korupsi berjamaah yang diduga diabaikan oleh pejabat daerah.

Praktik menjual hak petani melalui pemotongan liar jelas melanggar sejumlah regulasi dan bisa dijerat sanksi berat. Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang diperbarui dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, pada Pasal 12 menyebutkan setiap pegawai negeri atau penyelenggara negara yang melakukan pemerasan atau menerima gratifikasi dengan ancaman hukuman pidana penjara dan denda miliaran rupiah. Selain itu, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2018 tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi, mengamanatkan transparansi dan pelibatan publik pada setiap pengelolaan dana pemerintah.

LIRA mendesak seluruh saksi, aparatur desa hingga kelompok tani, untuk berani bicara dan tidak takut dengan ancaman atau tekanan dari oknum pelaku. Aparat penegak hukum, baik di tingkat Polres, Kejari, maupun Polda, diingatkan agar tidak bermain mata. Setiap temuan harus diusut tuntas, mulai dari proses transfer dana, distribusi di lapangan, hingga penggunaan anggaran seratus persen sesuai peruntukan.

Kasus Gayo Lues menjadi bukti nyata praktek pungli dalam distribusi dana pertanian bukan sekadar isu perilaku buruk birokrasi, melainkan sudah berubah menjadi kejahatan terorganisir berjamaah yang menantang kewibawaan negara. Negara tidak boleh kalah. KPK, Kejaksaan, dan kepolisian wajib bergerak, demi menyelamatkan hak petani dan uang rakyat yang selama ini hanya menjadi rebutan oknum rakus di balik meja dinas.

Ketika petani semakin miskin dan gagal panen, APH wajib ingat: hukum dan keadilan harus ditegakkan—bukan sekadar slogan, tapi langkah nyata di lapangan. Penjarakan pelaku pungli, telusuri hingga ke akar, audit setiap rupiah bantuan, dan kembalikan keadilan bagi petani Gayo Lues.

Laporan : TIM INVESTIGASI

Berita Terkait

LIRA Serukan Pengusutan Dugaan Pungli Dinas Pertanian Gayo Lues
LIRA Gayo Lues Desak Transparansi, Bantah “Kondusif” Versi Dinas Pertanian Soal Dugaan Potongan Bantuan Irigasi
Peserta Seleksi Baitul Mal Kabupaten Gayo Lues Minta Pansel Buka Nilai Tes Secara Transparan
Pengembangan Kasus Berbuah Hasil, Satresnarkoba Polres Gayo Lues Ringkus Dua Pelaku dan Sita Ratusan Gram Ganja
Berbekal Informasi Warga, Satresnarkoba Gayo Lues Ringkus Satu Pelaku Penyalahgunaan Narkoba, Pengedar Diburu
Satresnarkoba Polres Gayo Lues Berhasil Ungkap Kasus Peredaran Narkotika Sabu, Seorang ASN Diamankan
Dari Limbah hingga Dokumen Produksi, PT Rosin Dipandang Seolah Kebal Hukum dari Hulu ke Hilir
PT Rosin Tidak Cukup Hanya Mengaku Patuh, LIRA Minta Bukti di Lapangan dan Dokumen Resmi

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 07:03 WIB

Prof DR Sutan Nasomal Meminta Ketua Umum PDI Perjuangan Agar Memberikan Klarifikasi Ucapan Anggotanya “Menghina Wartawan Gerombolan Sirkus”

Rabu, 29 Juli 2026 - 01:30 WIB

Prof Sutan Nasomal Yakin Kapolres Bogor Akan Mewujudkan Harapan Masyarakat Tegaknya Hukum Tanpa Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 - 23:55 WIB

Fahd El Fouz A Rafiq : Pemberhentian Sekjend AMPI Tidak Sah dan Melanggaran Aturan Partai Golkar

Minggu, 26 Juli 2026 - 01:43 WIB

Prof DR Sutan Nasomal Meminta Presiden RI Merawat Gedung Juang 45 Menteng Jak-Pus Serta Di Fungsikan Kembali

Minggu, 26 Juli 2026 - 01:15 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Bijaksana Mengartikan Londo Ireng Sangat Penting Karena Semua Itu Adalah Saksi Sejarah

Minggu, 26 Juli 2026 - 00:47 WIB

YLBHI Kecam Prabowo, Sebutan “Londo Ireng” Dinilai Mengancam Kebebasan Pers

Sabtu, 25 Juli 2026 - 18:56 WIB

Fourlen Diana Terpilih Sebagai Ketua Umum DPP Tiara Kusuma Periode 2026–2030

Sabtu, 16 Mei 2026 - 23:51 WIB

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Guncang Bandung, KDM dan Kepala Daerah Bandung Raya Kompak Tampil

Berita Terbaru

GAYO LUES

LIRA Serukan Pengusutan Dugaan Pungli Dinas Pertanian Gayo Lues

Sabtu, 15 Agu 2026 - 00:52 WIB